[mpc_vc_deco_header type=”h3″ text=”Landasan Pemikirian”]

Era Musik Indonesia Memasuki Dunia Industri

Pada era tahun 50an, musik Indonesia masih sangat terbatas, hanya berupa karya – karya musik seperti lagu – lagu keroncong, seriosa, hiburan/langgam, lagu – lagu daerah, lagu melayu (non dangdut). Dan sarana bagi lagu – lagu tersebut hanya melalui radio republik Indonesia melalui program acara sperti bintang radio, dan dunia industrinya sama sekali belum berfungsi, begitu juga karya – karya cipta lagunya sangat terbatas, hanya pada lagu-lagu hiburan/langgam, lagu-lagu nasional yang bersifat perjuangan, lagu-lagu melayu, dan lagu-lagu daerah.

Jakarta merupakan barometer untuk dunia music tersebut dan pada saat itu lagu daerah sangat dominasi dunia music tersebut yaitu lagu-lagu daerah dari jawa, sunda, batak, ambon dan lagu-lagu padang yang paling sangat dominan seperti judul lagu “Ayam den Lapeh”, “SInande-nande”, “Laruik Sanjo”, “Kampung nan jauh di mato”, “barek solo”, begitu juga pada senimannya sepertif group music “Orkes Gumarang” pimpinan Asbon dengan penyanyinya “Nurseha, saiful nawas, dan yuni amir, begitu juga orkes teruna ria pimpinan zaenal arifin dengan penyanyinya Oslan Husain, orkes kumbang chari pimpinan Nuskan Syarif, Penyanyi Elly Kasim, Orkes Oto Chen, pimpinan Oto Chen. Dll

[mpc_vc_deco_header type=”h3″ text=”Sejarah KCI”]

Sejarah Yayasan Karya Cipta Indonesia

Pada Era tahun 1980-an sedang jaya2nya Dunia Industri Musik Rekaman di Indonesia, sehingga dunia Industri ini menghasilkan satu usaha bisnis yang sangat2 menguntungkan sehingga banyak sekali pengusaha yang tertarik untuk berusaha didunia industri musik ini, yang tadinya ditahun 1950an – 1960an hanya 3-4 perusahaan rekaman piringan hitam antara lain : PT. Irama (di Jalan Cikini Raya), PT Dimita (di Daerah Kali Besar) dan PT. Remaco (di Daerah Gedong Panjang Kota) di Jakarta dan PT.Lokananta yang berlokasi di Solo kemudian ditahun 1980-an perusahaan rekaman di Indonesia sudah mencapai ratusan jumlahnya.

Dalam perjalanannya ini, juga membuat para seniman ini juga bermunculan banyak sekali karena mereka sangat dibutuhkan untuk menunjang produksi, apakah itu penyanyi, pemusik maupun pencipta lagu; dan bagi para seniman ini akhirnya mereka menggantungkan diri untuk dapat hidup dari dunia seni rekaman musik.

Bagi para seniman musik, mereka merasakan belum adanya keadilan dalam menghargai hak2 mereka khususnya didalam pendapatan yang mereka terima dari para pengusaha rekaman; terutama para pencipta lagu yang karya cipta lagunhya dihargai paling kecil nilainya, apalagi lagu2nya ini sangat dibutuhkan sehingga keberadaan para pencipta lagu ini bertumbuh sangat banyalk bahkan mencapai ribuan.

Kondisi ini nampak jelas disalah satu sentra industri rekaman Indonesia saat itu yakni “Glodok Harco” lokasi perkantoran perusahaan – perusahaan rekaman. Kelompok Seniman Musik (Pencipta Lagu dan Penata Musik) yang kesehariannya mencari nafkah dengan melakukan transaksi pemakaian karya cipta lagu, mereka menyebut kelompoknya dengan nama “SENDOK” alias Seniman Glodok.

Berangkat dari kondisi pertumbuhan Industri Musik rekaman yang masih belum memosisikan para pencipta lagu dan pemusik pada proporsi yang setara dan sepadan dalam banyak hal, maka kelompok SENDOK yang memiliki semangat solidaritas yang sangat kuat dan teruji soliditasnya. Ceritera-ceritera menarik tentang naik ojek sepeda, makan di warteg sambil berhutang, berbagi ‘ongspul’ ongkos pulang, dlsb; semuanya itu telah mengukir kisah dan romantika tersendiri bagi para penggiat musik di Glodok tersebut yang kemudian sejarah mencatat dari sini pulalah lahir gagasan2 mulia untuk membenahi industri musik indonesia melalui wadah perjuangan seperti organisasi PAPPRI (Persatuan Artis Pencipta Lau dan Penata Musik Rekaman Indonesia) dan menjadi cikal bakal lahirnya KCI yang kita kenal sebagai Lembaga Manajemen Kolektif Indonesia yang pertama dan terpercaya di Indonesia.

Dalam perjalanannya, memang Pencipta lagu ini merupakan faktor yang paling penting dalam industri musik tapi kenyataannya justeru yang paling mengenaskan dalam hal pendapatannya dibanding penyanyi yang juga bisa mendapatkan penghasilan didunia pertunjukan, dlsb;

begitu juga pemusik; dari hari ke hari para pencipta lagu ini mengalami masa2 yang sangat sulit padahal mereka sudah menggantungkan kehidupannya dari profesi pencipta lagu ini.

Naah, faktor ini yang membuat banyak sekali pencipta lagu ini dari hari ke hari yang berharap pada profesi pencipta lagu, dalam posisi seperti ini maka Para Tokoh Seniman yang pada saat itu sudah mempunyai reputasi dan kedudukan yang baik dan terhormat dalam masyarakat, dilandasi pada kepedulian para tokoh ini terhadap nasib para pencipta lagu dan musisi serta kondisi industri musik pada umumnya; maka mereka sepakat mencari jalan keluar terbaik untuk bisa memperjuangkan perbaikan kondisi para pencipta lagu khususnya mengenai hak2 mereka, yang kebetulan juga selaras dengan gagasan dan upaya Pemerintah serta DPR dalam melahirkan Undang – Undang tentang Hak Cipta.

Undang – Undang tentang hak cipta itu mengatur tentang 2 (dua) hak bagi para pencipta antara lain Hak Menggandakan (Mechanical Right) dan Hak Mengumumkan (Performing Right). Dari kedua hak tersebut maka pada saat itu hanyalah hak menggandakan yang mereka dapatkan, itupun belum terwujud sebagaimana mestinya; sedangkan khususnya mengenai hak mengumumkan ini yang belum pernah tersentuh bagi pencipta lagu untuk mendapatkan haknya sedangkan karya2nya sudah dipakai setiap saat oleh para pengguna dalam berbagai kegiatan usaha mereka.

Sesuai dengan UU hak Cipta ini, maka para pencipta Lagu ini mempunyai hak moral dan hak ekonomi yang bisa menghidupi mereka didalam mereka berkarya sesaui undang2; hak ini memang tidak mudah didapat oleh para pencipta itu secara sendiri2, karena berbagai keterbatasan yang ada, sehingga harus dilaksanakan melalui sebuah wadah dimana wadah ini akan bertindak atas nama seluruh pencipta lagu yang menguasakan hak mereka kepada wadah ini.

Dengan dasar2 inilah maka Para tokoh seniman ini dapat melahirkan wadah ini pada tanggal 12 Juni 1990 di Jakarta; wadah inilah wadahnya para pencipta lagu yang akan berjuang untuk kehidupan para pencipta lagu. Para Tokoh dan insan musik Indonesiapun menyadari kondisi tersebut dan memrakarsai untuk membentuk sebuah wadah untuk memperjuangkan dan melaksanakan kegiatan Kolekting Hak para pencipta khususnya mengenai hak mengumumkan yang dapat dinikmati oleh para Pencipta Lagu sebagai Pemilik hak cipta selama hidupnya bahkan ketika ybs meninggal maka para ahli warisnya dapat menikmati royalti (hak ekonomi) tersebut sepanjang 50 tahun.

Wadah tersebut yang kemudian kita kenal sebagai ‘KCI” Karya cipta Indonesia, sebuah wadah yang menjadi tumpuan harapan satu2nya para Pencipta Lagu (Pemilik Hak Cipta) di Indonesia; didirikan tanggal 12 juni 1990 di – Jakarta.

Para Pendiri KCI antara lain :

Tokoh Seniman Musik

  • H Enteng Tanamal
  • Titiek Puspa
  • A.Riyanto
  • Rinto Harahap
  • Guruh Soekarno Putra
  • Candra Darusman
  • Dimas Wahab
  • Paul Hutabarat
  • Tubagus Sadikin Zuchra

Simpatisan para seniman musik indonesia

  • Bambang Kesowo   (saat itu Kepala Biro Hukum di Kantor Sekretariat Negara)
  • Taufiq Hidayat        (saat itu Ketua Komisi III DPR RI)
  • Walter Simanjuntak (saat itu Direktur Hak Cipta, Kementerian Kehakiman RI)

Organisasi profesi

  • PAPPRI         (Persatuan Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia)***

Mereka sepakat dan merampungkan gagasan mulia tersebut melalui sebuah proses pertemuan dan rapat-rapat serta melakukan kajian dan analisis yang hampir memakan waktu 3 tahun, termasuk berdiskusi dengan Pemerintah, Pihak Internasional (CISAC, BUMA STEMRA, JASRAC, dlsb) dan juga dilandasi oleh semangat yang tinggi untuk memperjuangkan hak2 para pencipta lagu, sehingga akhirnya terwujudlah satu wadah yang diberi nama “Yayasan Karya Cipta Indonesia” (KCI) yang khusus bergerak untuk mendapatkan hak2 para pencipta (khususnya hak mengumumkan yang digunakan oleh para pengusaha) yang digunakan diluar kegiatan Rekaman.

KCI bukan saja berjuang bagi para pencipta lagu di dunia industri yang di jakarta dan kota2 besar lainnya semata tetapi KCI dibentuk dan dipersembahkan untuk memperjuangkan nasib para pencipta lagu di seluruh Indonesia.

Karena peranan para pencipta lagu daerah dengan karya ciptanya yang melegenda dan senantiasa menghidupkan nilai2 budaya serta tradisi daerah sebagai kekayaan keragaman budaya bangsa, sebut saja seperti : Ibu Iar (Mojang Priangan), Lagu Angin Mamiri, Ampar2 Pisang, Ole Sioh, O Tana Batak, Butet, Bolelebo, O ina ni keke, Yamko rambe, dlsb.

Disamping juga perkembangan musik dan lagu pop daerah yang  berkembang sangat pesat seperti : Pop Minang, Pop Batak, Pop Ambon, Pop Manado, Pop Sunda, Pop Jawa – Campur Sari, Pop Bali, dlsb.

Bahkan jika dibandingkan pada tempo doeloe, para pencipta lagu seperti Ismail Marzuki, Gesang, Kusbini, H.Mutahar serta para legendaris lainnya yang mencipta lagu tanpa memikirkan mendapatkan manfaat ekonominya, bahkan belum sempat mendapatkan apapun atas karya ciptanya tersebut; namun dengan hadirnya KCI yang dapat mengolekt royalti sebagai harapan dari para pencipta lagu ini, maka dapat diwujudkanlah pemuliaan terhadap profesi Pencipta Lagu – Pemusik pada umumnya, yang dapat memberikan perbaikan harkat dan martabat mereka.

KCI – lah satu2nya wadah yang berjuang dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh nasib para pencipta lagu daerah diseluruh pelosok Nusantara – Indonesia tercinta ini.

KCI sudah mendistribusikan hak ekonomi para pencipta lagu sejak didirikan dan akan terus memberikan royaliti tersebut sepanjang kuasanya masih ada pada KCI.

KCI menjadi satu-satunya wadah yang menjamin perolehan royalti seumur hidup bagi para pencipta lagu yang menguasakan karya cipta lagunya kepada KCI, bahkan 50 (lima puluh) tahun setelah yang bersangkutan meninggal dunia, yang diterima melalui ahli waris yang sah.

KCI didirikan oleh Pencipta dan untuk Pencipta.

Salam Musik Indonesia,…

“Kita Semua Satu”

*** PAPPRI mulanya merupakan akronim dari Paguyuban Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia, kemudian berubah menjadi Persatuan Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia, lalu mengalami perubahan menjadi Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia, lalu berubah lagi menjadi “Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Republik Indonesia”